Setelah gempa M4,9 yang melanda, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) segera menurunkan sekitar 40 tenaga medis, termasuk dokter umum, spesialis, dan perawat. Mereka fokus untuk memberikan penanganan kepada korban gempa yang tersebar di beberapa wilayah terdampak. Kehadiran mereka jelas sangat penting, namun apakah semua korban bisa terlayani dengan optimal?
Sementara itu, bagaimana kondisi kesehatan korban setelah gempa terjadi? Hingga saat ini, tim medis dari IDI Bandung dan Jawa Barat masih melakukan pemeriksaan kesehatan keliling. Bersama tenaga paramedis, mereka menjangkau daerah terdampak seperti Majalaya, Banjaran, Lembang, Parompong, Bandung Barat, Baleendah, Garut, dan Cileunyi. “Kita terus bergerak untuk memastikan semua korban mendapatkan penanganan medis yang mereka butuhkan,” ujar salah satu dokter yang turun ke lapangan.
Apakah kerusakan fasilitas kesehatan memperburuk situasi penanganan korban? Beberapa fasilitas kesehatan, seperti Puskesmas Paperari, mengalami kerusakan yang cukup signifikan. Hal ini tentu menghambat penanganan medis, apalagi persediaan obat-obatan di puskesmas tersebut tidak dapat diambil karena bangunan berisiko runtuh. Kondisi ini memperburuk situasi, karena kebutuhan akan logistik dan obat-obatan semakin mendesak, terutama untuk menangani penyakit yang mulai muncul seperti ISPA, alergi, hipertensi, dan kecemasan pasca-bencana.
Apakah korban di rumah sakit mendapatkan penanganan yang layak? Di Rumah Sakit Bedas Kertas, 26 korban sedang dirawat, terdiri dari 13 pria dan 13 wanita. Sebagian besar, 24 di antaranya, hanya mengalami luka ringan dan dirawat jalan. Namun, 2 korban lainnya mengalami luka berat dan telah dirujuk ke RS Majalaya. Menurut data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), secara keseluruhan ada 15 korban luka berat, 7 di antaranya memerlukan perawatan intensif di RSUD.
Bagaimana kondisi pengungsi pasca-gempa ini? Dengan sekitar 5.400 pengungsi, mayoritas dari mereka adalah anak-anak, dewasa, dan lansia yang kini membutuhkan perhatian khusus. Selain kebutuhan logistik seperti makanan, ada dua anak di Desa Cihawuk yang memerlukan konseling untuk menangani trauma yang mereka alami setelah bencana. Kondisi ini menunjukkan bahwa bukan hanya fisik, tetapi dampak psikologis juga menjadi tantangan dalam penanganan bencana ini.
Mengapa gempa susulan tetap menjadi ancaman? Berdasarkan data BMKG, hingga Kamis (19/9), masih ada gempa susulan dengan kekuatan terbesar M3,1. Meski tidak ada potensi tsunami, gempa susulan ini menambah rasa cemas di kalangan warga yang sudah tertekan. Sebagian besar warga masih enggan kembali ke rumah mereka karena takut gempa susulan akan merobohkan bangunan yang sudah rusak.
Melihat situasi ini, rasanya kita harus mengapresiasi gerak cepat dari IDI dan para tenaga medis yang sudah turun tangan. Namun, masalah tidak hanya berhenti di sini. Gempa memang telah melukai fisik banyak orang, tetapi trauma psikologis, terutama pada anak-anak, seringkali terabaikan. Ke depan, sangat penting untuk memperhatikan kebutuhan konseling bagi para korban, apalagi yang masih muda. Bantuan medis perlu terus berlanjut, tetapi jangan lupa bahwa kebutuhan emosional mereka juga sama pentingnya.
Dari sudut pandang logistik, pemenuhan obat-obatan dan makanan harus segera diselesaikan. Kita berharap pemerintah dan pihak terkait bisa lebih cepat dalam merespons kebutuhan ini. Namun, dengan kerja sama yang baik antara IDI, BNPB, dan berbagai pihak, kita bisa optimis bahwa situasi ini bisa segera teratasi.