Sheikh Naim Qassem, wakil sekretaris jenderal Hizbullah, kembali jadi sorotan setelah ia menyampaikan pidato yang mendukung gencatan senjata di Lebanon. Meski begitu, ia tetap menegaskan posisi Hizbullah dalam konflik dengan Israel yang masih berlangsung.
Qassem sudah lebih dari 30 tahun menjadi salah satu pemimpin senior Hizbullah, organisasi yang didukung oleh Iran. Pada tanggal 8 Oktober 2024, Qassem menyampaikan pidato di televisi selama 30 menit, hanya beberapa hari setelah serangan udara Israel yang dikabarkan menargetkan Hashem Safieddine, seorang tokoh senior Hizbullah.
Pidato Televisi: Tentang Konflik dan Perlawanan
Dalam pidatonya, Qassem menyatakan bahwa konflik antara Hizbullah dan Israel adalah “perang siapa yang menangis lebih dulu.” Ia menegaskan bahwa Hizbullah tidak akan menyerah dalam menghadapi Israel, meskipun mereka mengakui bahwa kelompoknya sudah menerima “pukulan menyakitkan” dari Israel. Namun, ia juga mengklaim bahwa kemampuan Hizbullah untuk melawan masih utuh.
Pidato Qassem ini datang hanya 11 hari setelah terbunuhnya Hassan Nasrallah, sekretaris jenderal Hizbullah, akibat serangan udara Israel. Sejak itu, banyak yang mempertanyakan stabilitas Hizbullah tanpa Nasrallah, tetapi Qassem mencoba meredakan kekhawatiran tersebut dengan mengatakan bahwa semua pemimpin militer yang terbunuh telah diganti dan kelompok itu masih dalam posisi untuk terus berperang.
“Hizbullah tidak akan pernah tunduk pada tekanan dari Israel atau sekutunya,” tegas Qassem.
Dukungan terhadap Gencatan Senjata, Namun Tetap Siap Berperang
Salah satu poin penting dari pidato Qassem adalah dukungannya terhadap gencatan senjata di Lebanon. Qassem memberikan dukungan pada upaya juru bicara parlemen Lebanon, Nabih Berri, yang berusaha mengamankan gencatan senjata. Namun, yang menarik, untuk pertama kalinya Qassem tidak menetapkan gencatan senjata Gaza sebagai prasyarat untuk gencatan senjata Lebanon. Ini mungkin menunjukkan bahwa Hizbullah mulai mempertimbangkan strategi baru di tengah tekanan militer yang semakin berat dari Israel.
Namun, Qassem juga menyatakan bahwa jika perang berlanjut, medan pertempuran akan menentukan siapa yang menang. Ini menunjukkan bahwa meskipun mendukung diplomasi, Hizbullah tetap siap untuk pertempuran yang lebih besar jika diperlukan.
Serangan Darat Israel dan Pembalasan Hizbullah
Saat ini, Israel telah memperluas serangan daratnya ke wilayah perbatasan selatan Lebanon, yang memicu balasan dari Hizbullah. Mereka terus meluncurkan serangan roket ke Israel sebagai bentuk dukungan terhadap Hamas, yang masih dalam konflik bersenjata dengan Israel sejak Oktober 2023.
Dalam situasi ini, Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant, pada 8 Oktober 2024 menyebut Hizbullah sebagai kelompok yang “babak belur dan hancur,” menggambarkan organisasi itu sebagai entitas tanpa komando yang jelas, dan mengklaim kepemimpinan Hizbullah terpecah belah setelah pembunuhan Nasrallah. Namun, Hizbullah membantah klaim ini dengan menegaskan bahwa mereka tetap solid dan siap melanjutkan pertempuran.
Peran Iran dan Kritik terhadap Amerika Serikat
Dalam pidato yang sama, Qassem juga menegaskan bahwa Iran tetap memberikan dukungan penuh kepada Hizbullah. Dia menekankan bahwa perlawanan Hizbullah adalah bagian dari perlawanan global melawan Israel, yang menurutnya akan runtuh jika bukan karena dukungan Amerika Serikat.
Qassem mengkritik keterlibatan Amerika dalam konflik ini, menyatakan bahwa AS adalah alasan utama mengapa Israel masih bisa bertahan. “Tanpa dukungan Amerika Serikat, Israel tidak akan mampu bertahan satu hari pun,” ujarnya.